MENU

Monday, January 16, 2017

Cerpen Toleransi Beragama



Kenapa Harus Beda

Namaku Zayn Malik. Aku dibesarkan di desa yang masyarakatnya adalah umat Islam. Aku juga dibesarkan oleh keluarga Islam yang taat. Ayahku adalah seorang guru agama di sebuah sekolah menengah, sedangkan ibuku seorang pengajar ngaji. Aku selalu dididik untuk menjadi anak yang taat pada Allah dan rajin beribadah. Setiap sore, aku dan teman-teman selalu bersemangat berangkat ke masjid untuk mengaji. Bahkan, kami sering taruhan tentang siapa yang akan menghafal Al-quran terlebih dahulu. Begitu juga di sekolahku yang berbasis Islam, aku dan teman-teman sering melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan bersama. Kami juga sering menjuarai lomba-lomba bertema Quran.
Sampai akhirnya aku harus menelan kesedihan. Ketika keadaan mengharuskan kami sekeluarga meninggalkan desa. Aku harus meninggalkan teman-teman, sekolah, dan masjid kesayanganku. Sangat sulit bagiku, untuk meninggalkan semua yang telah bersamaku sejak kecil itu.
Kami pun meninggalkan desa. Pindah ke daerah baru yang sama sekali belum pernah kami pijak. Daerah itu tidak jauh berbeda dengan tempat tinggal kami sebelumnya. Orang-orangnya ramah, dan aku juga mendapatkan teman-teman yang baik. Di situ juga tersedia masjid yang tak kalah bagus dari masjid kesayanganku di desa. Hanya saja masjidnya tidak sebanyak di desaku dan ada beberapa bangunan lain. Beberapa berbentuk seperti istana yang ada simbol palangnya, dan beberapa berbentuk seperti candi yang ada patung dan bunganya.
             Di bangunan seperti candi itu, biasanya aku melihat orang-orang membawa nampan berisi lilin, bunga dan benda-benda lain yang tidak kuketahui namanya. Teman baruku, Nayaka sering datang kesitu dengan mengenakan baju putih dan udeng di kepalanya. Sedangkan yang wanita biasanya mengenakan bunga di rambutnya.
“Nayaka!” panggilku seraya menghampiri Nayaka yang sedang berjalan menuju ke tempat itu lagi
“Iya?” dia menoleh ke arahku
“Kamu mau ke candi itu ya?” tanyaku sambil menunjuk ke arah candi itu
“Itu bukan candi, Zayn. Tapi kuil” Jelasnya
“Oh kuil, ngapain kamu kesana?” tanyaku lagi
“Berdoa” Jawabnya dengan singkat
Aku menjadi bingung kenapa dia berdoa di sana dan bukan di masjid, seperti aku. Namun belum sempat aku bertanya lagi. Ibunya memanggil yang membuatnya segera pergi.
Sementara di bangunan mirip istana itu aku sering melihat Anthony datang kesana, dia adalah teman pertamaku disini. Aku pun menjadi penasaran dan nekat menaiki tangga untuk mengintipnya. Ternyata tidak hanya Anthony yang berada di situ, melainkan banyak orang. Musik dimainkan dan mereka bernyanyi sambil mengangkat tangan. Di lagu terakhir mereka menyanyi sambil menutup mata, bahkan sampai menangis tersedu-sedu. Setelah itu mereka mendengarkan seseorang yang berbicara di depan mereka. Sama seperti ketika aku mendengarkan ceramah pak ustad di desa.
Tanpa sadar aku telah mengintip hingga Anthony selesai dengan kegiatannya dan keluar dari tempat itu.
 “Anthony!” aku menghampiri Anthony
 “Eh, Zayn. Kok kamu disini?” tanyanya
“Iya, hehe,” aku tertawa kecil
“Tadi aku ngintipin kamu. Aku bingung soalnya, kok kamu sering banget kesini,” jelasku
“Iya, Zayn. Aku dan mama sering kesini untuk beribadah” ungkapnya sambil dengan santai melangkahkan kaki dan aku mengikutinya.
 “Beribadah?? Kok disini? Bukannya beribadah itu di masjid ya?” aku terus melemparkan pertanyaan
“Jadi gini, kata mama kita itu beda. Aku ibadahnya di gereja, kalau kamu di masjid” Jawabnya sedikit menyembuhkan rasa ingin tauku
“Tapi kata mama meskipun kita ini beda, kita gak boleh bertengkar, kita harus sahabatan terus” Tambahnya
Tak terasa Anthony pun sampai di rumahnya. Sedangkan aku melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Di jalan, aku terus memikirkan perkataan Anthony  tentang ‘Kita Ini Beda’.  Aku semakin bingung. Tadi Nayaka berdoa di kuil, Anthony di gereja, dan aku sendiri di masjid. ‘Kenapa Harus Berbeda?’. Aku ingin segera sampai rumah dan melemparkan pertanyaan-pertanyaanku pada Ayah.
Di rumah, Ayah pun berhasil menjawab segala kebingunganku.
“Anakku, kita ini diciptakan oleh siapa?” Tanya Ayah
“Oleh Allah” Jawabku
“Ayah, ibu, Zayn diciptakan oleh?” tanya Ayah lagi
“Allah” Jawabku
“Kalau Anthony? Diciptakan oleh?” Ayah terus bertanya
“Gak tau, soalnya kata Anthony kita ini beda” jawabku dengan bingung
“Anthony juga diciptakan oleh Allah, sayang. Sebenarnya kita ini sama, hanya saja cara dan tempat ibadah kita berbeda. Tapi intinya kita ini sama-sama makhluk Allah. Begitu juga dengan Nayaka” Jelas Ayah
“Tapi meskipun kita ini berbeda, kita harus saling menghormati dan menghargai. Perbedaan itu bukan untuk dijauhi, tapi untuk dijalani sebagai sebuah anugrah dari Allah” Tambahnya
Sekarang aku mengerti bahwa perbedaan itu memang ada, dan dari situlah tercipta persatuan yang indah.

No comments:

Post a Comment